Category: Alquran – Berkaitan

ALLAH SURUH CARI JALAN, BUKAN CARI ALASAN

[fb-e url=”https://www.facebook.com/wargaprihatin/photos/a.201867952785.170933.176792972785/10156906330727786/”]



TIPS MEMBENTUK KETAKWAAN ANAK ISTERI

[fb-e url=”https://www.facebook.com/DrMasjuki/posts/1379270842177262/”]



ILMU MUTASYABIHAT YANG DIBAZIRKAN

[fb-e url=”https://www.facebook.com/DrMasjuki/posts/1378876118883401/”]



FRIENDLY REMINDER UNTUK SAHABAT PEMIMPIN YANG DIKASIHI

[fb-e url=”https://www.facebook.com/DrMasjuki/photos/a.726298680807818.1073741828.726257017478651/1375866249184388/”]



JIKA TIDAK DARI ALLAH PASTI BANYAK KONFLIK

[fb-e url=”https://www.facebook.com/DrMasjuki/posts/1372075572896789 /”]



KISAH JUTAWAN YANG MENFAKIRKAN DIRI

JUTAWAN INI SERAHKAN SELURUH KEKAYAANNYA UNTUK BUKA RUMAH KEBAJIKAN YANG TIDAK MEMINTA DERMA. SELEPAS 11 TAHUN ANAK-ANAK YATIM JAGAANNYA MENJUMPAI KERATAN AKHBAR INI DAN….

 

[fb-e url=” https://www.facebook.com/snfanclub/photos/a.197056165957.130711.25409635957/10153477720275958/”]



KERAK NERAKA & DOSA MUNAFIK YANG TIDAK TERAMPUN

KERAK NERAKA & DOSA MUNAFIK YANG TIDAK TERAMPUN

Pendirian degil dan keras kepala amat memanaskan suasana di akhir zaman ini. Ciri togho atau melampaui batas ini terlihat di mana-mana. Kejujuran dalam menilai baik buruk suatu perkara, samada yang terkait dengan diri sendiri mahupun pihak lain sukar sekali ditemui.

Sifat assobiyah dan kemunafikan terlalu berleluasa.

Yang marah dan membenci pihak lain sering bersifat satu hala. Kerana kebencian itu maka kebaikannya juga dihapus kira. Yang menyokong satu pihak juga begitu. Kerana sokongan itu, maka keburukan pihak yang disokong juga kita buat-buat tidak tahu.

Lebih parah lagi melihat habit berbuat salah dengan sengaja. Ditambah pula dengan habit keras kepala dan menebalkan muka. Sukar sekali mencari pesalah yang sanggup mengaku dirinya berdosa dan memohon maaf dengan sukarela. Lisan suka memutar belit apabila berkata-kata.

Kita lupa bahawa kebenaran yang hak tetap akan terangkat juga biar apa usaha untuk menghalangnya. Kita juga lupa bahawa kebatilan akan musnah juga biar sehebat mana kita cuba menutupinya.

Sesungguhnya munafik itu berada di kerak api neraka. (QS 4: 144-145). SEGERALAH BERTAUBAT DAN BUATLAH ISLAH (Ayat 146)

Sesungguhnya Allah itu bersifat pengampun terhadap hambanya yang ikhlas memohon ampun dan bertaubat DENGAN SEGERA. Namun ada masanya di mana tidak diterima keampunan dari kita jika kita asyik mengulang-ulangi kesalahan yang sama dengan sengaja. (QS, 4: 17-18)

Begitu juga sifat manusia yang sentiasa menzikirkan “ASMA’ULHUSNA”, Nama-nama Allah Yang Maha Mulia. Mereka juga akan bersifat pengampun terhadap saudaranya kerana mereka itu mengikuti perintah penciptanya.

Namun jangan lupa bahawa manusia juga akan berkeras untuk tidak lagi mahu memaafkan kita jika keterlaluan dan mengulang-ulangi kejahatan kita terhadap mereka. Ketika itu mereka juga akan bersifat keras terhadap kita. Itulah sunnah yang telah ditunjukkan Rasullullah SAW ikutan kita. (QS: 48/29)

Akhirnya, kita yang mempermain-mainkan sifat pengampunnya Allah, melengah-lengahkan taubat tetap akan menjadi pendosa yang terhina. Ini kerana Allah tidak akan menerima taubat mereka yang mengulangi dosa dengan sengaja (QS:4/18).

Pada masa yang sama, sikap begini juga boleh membuatkan manusia sukar mengampuni kita dan kekal membenci serta memarahi kita.

Oleh itu, jika Allah masih sudi menerima taubat kita sekalipun, kita akan masih kekal ke neraka apabila tidak terampun dosa kita terhadap manusia.

Tidak perlu bersangka-sangka untuk terhina di akhirat sana kerana penghinaan dosa terhadap manusia sebegini JELAS AKAN MENYIKSA KITA KETIKA MASIH DI DUNIA. Hanya orang yang hati kering dan tebal muka sahaja sanggup menanggungnya.

WARGA PRIHATIN

Warga Prihatin's photo.


Perintah Allah dan Wasiat salafush shålih untuk meninggalkan debat

00 perlantikan pemimpinhttp://prihatin.net.my/web2/blog/2014/01/28/budaya-debat-menghapuskan-cara-hidup-islam/

Mutakhir ini budaya debat sudah menjadi kelaziman yang memualkan dan menyakitkan hati. Masing-masing cabar-mencabar untuk menunjukkan kepandaian dan memperlekehkan pihak lain. Padahal telah Allah jelaskan bahawa budaya debat akan melemahkan kita. Berikut adalah beberapa di antara FirmanNya,

QS: 2. Al Baqarah 139. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati“,

 

QS: 2. Al Baqarah 176. “Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”.

 

QS: 2 Al-Baqarah: 204-205 Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (darimu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan,”

 

QS: 3. Ali ‘Imran 20. “Kemudian jika mereka mendebat kamu maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.

 

QS: 4. An Nisaa’ 107. Dan janganlah kamu mendebat orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

 

QS: 4. An Nisaa’109. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka ?

 

QS: 7. Al A’raaf 71. Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu.” Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama  yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.”

 

QS: 8. Al Anfaal 46. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar“.

 

QS: 11. Huud 76. “Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak”.

 

QS: 16. An Nahl 125. “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“.

 

QS: 18. Al Kahfi 22. “… Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kamu  bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka  kepada seorangpun di antara mereka.”

 

QS: 18. Al Kahfi 54. “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”

 

QS: 19 Maryam: 97 Maka sesungguhnya, telah kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang,”

 

QS: 22. Al Hajj 8. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya”

 

QS: 29. Al ‘Ankabuut 46. Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”

 

QS: 40. Al Mu’min 4. Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.”

 

QS: 43 Az-Zukhruf : 58 Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar,”

 

Rasulullah SAW pula telah mewasiatkan larangan berdebat ini dalam banyak sekali hadis sohih dan wasiat yang sama banyak dinukilkan oleh para ulama’ muktabar sebelum ini.

1. Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam

Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar.

Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”

(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

2. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:

“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”

[Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]

3. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa

“Cukuplah engkau sebagai orang zalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain zikir kepada Allah.”

[al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]

4. Abud Darda radhiyallahu ‘anhu

“Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.”

[Darimi: 299]

5. Muslim Ibn Yasar rahimahullah

“Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]

6. Hasan Bashri rahimahullah

Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata,

“Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku bisa mendebatmu dalam agama!”

Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:

“Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]

7. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah

“Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]

8. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah

“Seorang yang wira’i tidak akan pernah mendebat sama sekali.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

(1-Wira’i artinya orang yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi diri dari yang mubah)

9. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah

“Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.”

[Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

10. Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah

“Dulu dikatakan: pertikaian dalam agama itu melebur amal.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 562]

11. al Auza’i rahimahullah

“Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”

[Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]

12. Imran al-Qashir rahimahullah

“Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan: Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]

13. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah

“Pertikaian (perdebatan) itu menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.”

[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

14. Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah

Dikatakan kepada Abdullah ibn al Hasan ibn al Husain rahimahullah,

“Apa pendapatmu tentang perdebatan (mira’)?”

Dia menjawab:

“Merusak persahabatan yang lama dan mengurai ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi sarana untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus talit silaturrahim yang paling kuat.”

[Tarikh Dimasyq: 27-380]

15. Bilal ibn Sa’d rahimahullah (kedudukannya di Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)

“Jika kamu melihat seseorang terus-terusan menentang dan mendebat maka sempurnalah kerugiannya.”

[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

16. Wahab ibnu Munabbih rahimahullah

“Tinggalkanlah jidal dari perkaramu, karena ia tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari dua orang: seseorang yang lebih alim darimu, bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang lebih alim darimu? Dan seseorang yang engkau lebih alim daripadanya, bagaimana engkau memusuhi orang yang engkau lebih alim daripadanya dan ia tidak mentaatimu? Maka tinggalkanlah itu.”

[Tahdzibul Kamal: 31/148; Siyarul A’lam: 4/549; Tarikh Dimasyq: 63/388]

17. Malik ibnu Anas rahimahullah

Ma’n rahimahullah berkata:

“Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah.”

Dia berkata:

‘Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’

Imam Malik berkata,

‘Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.’

Dia berkata,

‘Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka ucapkan.’

Imam Malik bertanya,

‘Jika engkau mengalahkan aku?’

Dia menjawab,

‘Maka ikutlah aku!’

Imam Malik bertanya lagi,

‘Kalau aku mengalahkanmu?’

Dia menjawab,

‘Aku mengikutimu?’

Imam Malik bertanya,

‘Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita dikalahkannya?’

Dia berkata,

‘Ya kita ikuti dia.’

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah”.”

Imam Malik rahimahullah berkata:

”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa pun (tidak ada nilainya sama sekali).”

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,

”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.”

(Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)

18. Muhammad ibn Idris as-Syafi’I rahimahullah

“Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”

[Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]

19. Ahmad bin Hambal rahimahullah

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang,

“Saya ada di sebuah majlis lalu disebutlah di dalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali oleh saya, apakah saya mengatakan?”

Dia menjawab:

“Beritakanlah sunnah itu, dan janganlah mendebat karenanya!”

Orang itu mengulangi pertanyaannya, maka Imam Ahmad rahimahullah berkata:

“Aku tidak melihatmu kecuali seorang yang mendebat.”

[al-Adab as-Syar’iyyah: 1/358, dalam bab menyebar sunnah dengan ucapan dan perbuatan tanpa perdebatan dan kekerasan; al-Bashirah fid-Da’wah Ilallah: 57]

20. Shafwan ibn Muhammad al-Mazini rahimahullah

Saat Shafwan rahimahullah melihat para pemuda berdebat di Masjid Jami’ maka ia mengibaskan tangannya sambil berkata:

“Kalian adalah jarab, kalian adalah jarab.”

[Ibnu Battah: 597]

(Jarab = Sejenis penyakit kulit)

Dahulu dikatakan:

“Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.”

[Al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

Sumber: alqiyamah


Wasiat asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali al-Yamani al-Wushobi al-AbdaliWahai Penuntut ilmu, jika kamu membuka pintu debat bersama temanmu maka sungguh kamu telah membuka pintu penyakit fitnah buat dirimu. Apabila seseorang penuntut ilmu tidak menjauhkan diri darinya tentu akan mendapatkan marabahaya.

Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

ما ضل قوم بعد هدى كا نوا عليه إلاأوتواالجدال : ثم قرأ : ماضربوه لك إلاجد لا بل هم قوم خصمون – رواه الترمذي عن أبي أمامة الباهلي –

 

ِArtinya : “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah berikan kepada mereka ilmu debat. Kemudian beliau membaca : mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”

(HR Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahily)

Saya masih teringat seorang teman ketika awal belajar di Madinah, mungkin kurang lebih dua puluh empat atau dua puluh lima tahun yang silam, dia terkenal banyak berdebat. Terkadang dia mulai berdebat dari setelah Isya’ sampai akhir malam. Ternyata pada akhirnya dia mendapatkan kegagalan, tidak menjaga waktu, tidak beristighfar, bertasbih, bertahlil, bangun malam, dan tidak melaksanakan bimbingan Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam.

Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bukanlah pendebat. Tatkala Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam pergi kerumah Fatimah dan Ali ketika beliau ingin membangunkan keduanya untuk sholat malam, beliau mengetuk pintu dan berkata :

”Tidaklah kalian bangun untuk melaksanakan sholat?”

‘Ali mengatakan :

”Sesungguhnya jiwa kami di Tangan Allah, Dia membangunkan sesuai kehendak-Nya.”

Lalu Baginda SAW balik sambil memukul pahanya dan berkata :

وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا

” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”

(QS Al Kahfi :54 )

Rasulullah tidak mendebat Ali dan beliau menganggap bahwa apa yang dijawab Ali termasuk dari jidal (debat) dengan berdalilkan firman Allah :

وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا

” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”

(QS Al Kahfi :54 )

Wahai penuntut ilmu jauhilah dari perdebatan, karena hal yang demikian itu menyebabkan kemurkaan dan kebencian di dalam hati. Katakan kepada temanmu apa yang kamu ketahui, kalau temanmu mengatakan tidak, kembalikanlah permasalahannya kepada Syaikhmu, dan sekali lagi menjauhlah kamu dari perdebatan, Rasulullah bersabda :

إذااختلفتم قي القران فقوموا – متفق عليه

“Apabila kalian berselisih di dalam Al Qur’an maka tinggalkan tempat tempat itu.”

(Muttafaqun Alaihi)

Apabila terjadi disuatu majlis perdebatan, satu menyatakan demikian yang lain menyatakan demikian, maka dengarkan sabda Rasulullah diatas dan janganlah kalian duduk ditempat itu dan jangan mencoba untuk membuka perdebatan. Berhati-hatilah kamu dari debat dan peliharalah waktumu, insya Allah kamu akan saling mencintai dan saling menyayangi.

[Disalin oleh Abu Aufa dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Melayu dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah“]

Maksud perkataan ‘ulama diatas

Syaikhul Islam berkata, “Jadi, yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh

– orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain)

– atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti;

– berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran,

– serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.

“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqomah. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami. Aamiin.”




SYAHID TGNA YANG MENGHIDUPKAN JIWA

00 tgna malikat

SYAHID TGNA YANG MENGHIDUPKAN JIWA

Semalam adalah hari dukacita bukan sahaja bagi umat Islam, malah kebanyakan rakyat berbilang bangsa dan agama di Malaysia dan dunia. Murabbi ummah Allayarham Tuan Guru Nik Aziz bin Nik Mat telah selamat disemadikan. Jenazah diiringi puluhan atau mungkin ratusan ribu lautan manusia yang berhimpun bukan atas tiket politik mahupun keperluan protokol dalam jawatan awam.

TGNA hanya bekas Menteri Besar yang sudah tiada kuasa di tangan. Tetapi, kematiannya menjadikan seluruh saluran televisyen berkabung memberi penghormatan. Di corong radio kebanyakannya mengalunkan bacaan Al-Quran. Malah ada yang menyiarkan upacara pengkebumian secara langsung. Newsfeed media sosial juga dibanjiri dengan status penghormatan kepada TGNA.

Media Prima melalui TV3 yang menyiarkan siaran ulangan rancangan hiburan sewaktu upacara pengkebumian berlangsung ditegur banyak pihak kerana mereka seperti tidak cakna akan kematian ini. Alhamdulillah setelah ditegur, TV3 segera menyiarkan selingan bacaan ayat suci alquran.

Di samping itu, kita dukacita kerana masih ramai keyboard warrior yang meneruskan cercaan terhadap TGNA di saat yang lain merendah diri dan bersedih dengan pemergian tokoh agama itu. Antaranya termasuk status dari Ibrahim Ali yang mengguris jutaan hati yang menyayangi TGNA.

MATI SYAHIDKAH TGNA?

Ini merupakan persoalan utama yang ditanyakan oleh anak-anak apabila melihat tingginya aura kesedihan dan besarnya penghormatan yang diberikan.

Jika dilihat akan terminologi SYAHID itu sendiri bermaksud PENYAKSIAN. Berapa juta rakyat Malaysia yang mengikuti perkembangan kematian TGNA? Berapa ramai yang berusaha hadir untuk memberi penghormatan dan mengiringi jenazah ke pusara? Berapa ramai pula yang mengikutinya melalui siaran langsung mahupun rakaman, lapuran media sosial dan akhbar?

Bagi kami, ini adalah satu contoh MATI SYAHID, iaitu kematian yang ingin sekali disaksikan oleh begitu ramai manusia. Untuk apakah begitu ramai manusia beria-ia hadirkan diri, datang dari jauh dan dekat atau mengikuti melalui media untuk menyaksikannya? Itulah nilai JIHAD TGNA yang istiqomah dan selama ini disaksikan oleh manusia sewaktu hayatnya.

Kebetulan kematian TGNA berlaku pada hari Jumaat, penghulu segala hari. Umat Islam memang bercuti atau akan meninggalkan urusan jualbeli untuk berhimpun pada hari itu. Ramainya jumlah yang memberikan penghormatan sahaja sudah jadi satu tanda bahawa mereka redha dan bersedih hati dengan pemergian insan ini. Tidak mungkin mereka yang sanggup hadir itu tidak sanggup memaafkan TGNA. Maka kemaafan dari lautan manusia itu akan InsyaAllah disertai juga dengan keampunan Allah yang sememangnya MAHA PENGAMPUN.

PERSEMADIAN YANG DIIRINGI RIBUAN MALAIKAT?

Anak-anak juga bertanya adakah kematian itu diiringi dan diuruskan oleh ribuan malaikat sebagaimana ramainya lautan manusia? Secara mudahnya, Allah memang sentiasa utuskan malaikat untuk mencatat amal manusia. Sudah tentu ada 2 kali ganda malaikat bersama lautan manusia itu. Namun, kami jelaskan juga secara analogi dan sains sosialnya.

Syaitan dan malaikat itu adalah dua makhluk halus yang dikatakan tidak nampak secara fizikalnya. Namun dalam banyak ayat, Allah katakan bahawa SYAITAN ITU MUSUH YANG NYATA BAGIMU (QS:2/208). Ia mudah dikenali melalui tabiatnya, iaitu ingkar dan degil. Kepala batu itu yang asyik mencetuskan API (analogi kepada perbalahan dan kemarahan). Itulah NERAKA yang terhasil dari tabiat ingkar syaitan yang dijadikan dari API. Syaitan juga Allah katakan dari kalangan jin dan manusia yang suka membisikkan kejahatan ke dada manusia lain (QS:114, ANNAS).

Sebaliknya Allah jelaskan juga ciri malaikat yang dijadikan dari CAHAYA (analogi kepada petunjuk/ilmu) dan sentiasa pula tunduk patuh kepada Allah. Malaikat juga dikatakan tidak makan dan minum. Secara tersirat, ciri malaikat itu sentiasa berilmu, patuh dan tiada kepentingan diri dalam sebarang kerjabuatnya.

Sekian ramai manusia yang bersusah payah datang dari jauh dan dekat membanjiri Pulau Melaka itu ternyata adalah bukan atas urusan protokol kerana TGNA bukan lagi seorang MB. Bukan juga untuk melobi kerana TGNA tiada lagi kuasa. Bukan juga kerana wang ringgit atau dibayar untuk hadir kerana TGNA tidak tinggalkan harta berjuta.

Mereka yang hadir adalah manusia yang membawa ciri malaikat. Datang untuk mengiringi persemadian syuhada TGNA tanpa kepentingan peribadi. Kebanyakan mereka hadir kerana menghargai ilmu agama yang ditabur TGNA, termasuklah himpunan jemaah alumni anak didik beliau sekian lama. Inilah nilai ilmu yang bermanfaat sebagai tiket ke syurga.

KEMATIAN YANG MENYATUKAN & MENGHIDUPKAN

Semalam, seluruh Malaysia bersatu mengenang jasa seorang insan zuhud, tanpa mengira fahaman politik atau agama bangsa lagi. Baik yang Cina, India, Melayu atau yang lain-lain semuanya memberi penghormatan terakhir kepada jenazah TGNA. YAB PM, Datuk Seri Mohd Najib bin Tun Abdul Razak sendiri juga turut hadir, malah menghentikan ucapan beliau di dalam sebuah majlis pada malamnya bagi memberikan penghormatan sebaik sahaja menerima berita.

Sesungguhnya pemergian itu telah menyatukan kita semua dengan melucutkan label-label parti dan tanpa mengira bendera. Semuanya bersatu untuk menghormati kematian seorang pemimpin yang sangat disegani oleh lawan dan dihormati kawan. Benarlah kata Allah “Jangan kamu sangka syuhadak itu mati, sebenarnya mereka terus hidup” QS:3/169.

Datuk Seri Haji Hadi Awang antara yang kelihatan paling sugul. Beliau diberitakan hampir rebah sebaik sahaja tiba di Pulau Melaka. Apa tidaknya, sisa juang warga lama di dalam PAS kini kehilangan sayap kanannya. Maka beliau seperti burung kepatahan sebelah sayap. Ditambah pula dengan ucapan sinis Datuk Seri Anwar Ibrahim sebelum dijatuhkan hukuman yang minta digantikan kepimpinan lama dengan generasi muda yang lebih bertenaga atau mungkin lebih liberal.

Kini tinggal TGHA yang juga mulai uzur itu bersendirian mengharungi haluan lama perjuangan PAS. Timbulnya PASMA yang diterajui golongan muda dan liberal pula menambah tekanan, menjadi jarum pemisahan antara golongan PAS lama dan PAS yang baru. Semakin berpecahlah umat Islam yang memang sudah sedia berpecah-belah ini.

Apapun kami perasan suatu yang amat positif dari peristiwa semalam. Kehadiran YAB PM juga begitu ramai pemimpin pusat, dan adanya siaran langsung TV1 yang mendapat kerjasama Kelantan TV semasa pengkebumian itu amat menyejukkan hati. Alangkah baiknya jika kerjasama ini diteruskan.

KEMATIAN INI TELAH MENYATUKAN TETAPI DAJJAL AKAN MUSNAHKANNYA

Kematian ini menyatukan banyak jiwa-jiwa tanpa mengira ideologi politik parti-parti yang ada. Namun, sistem demokrasi berasaskan UNDI tajaan DAJJAL ini mempunyai satu ruang besar untuk perpecahan ini berlaku semula dengan sekelip mata.

DUN yang diwakili oleh TGNA akan diishtiharkan kosong. Pilihanraya kecil terpaksa diadakan. Tunggu sahaja 1-2 minggu dari sekarang apabila kekosongan kerusi ini diumum, maka kita akan lihat drama cakar mencakar, tuduh sana dan tuduh sini akan berulang lagi..

Islam adalah agama yang berlandaskan kekuatan ilmu, faham dan yakin. Kerana itu untuk memenangkan Islam tidak perlu ramai. Kita hanya perlukan pemimpin/umarak yang berilmu dan berintegriti. Perlantikannya harus dibuat oleh jemaah orang alim (ULAMAK) yang berkecuali, yang mewarisi peranan para rasul dan nabi. Jemaah merekalah yang mampu memilih, mendidik, membimbing dan mengawal selia para wali/pemimpin umat ini agar sentiasa berlaku adil dan bijaksana.

Sebaliknya, sistem undi pula akan memenangkan yang ramai. Jika umat ramai yang jahil, maka mereka akan memilih dan memenangkan pemimpin jahil yang mereka suka kerana sesuai dengan selera jahiliyah mereka. Yang penting calun itu banyak wang dan sanggup berjudi, melabur harta untuk membeli undi, pandai pula memainkan propaganda dan adudomba. Itu yang membuatkan pengikut jadi taksub dan mabuk dalam memuja calun idola mereka. Isu panas dan dendam yang diperam serta berita fasik akan disajikan, sampai pengikut jadi mabuk dan marah.

Apabila sudah mabuk dan bermusuh, maka kebenaran dari Allah dan Rasul pun boleh diketepikan buta-buta. Akhirnya umat semakin berpecah belah, saling memutuskan silah dan kasih sayang. Itulah keseluruhan methodologi syaitan dalam memilih pemimpin melalui kaedah UNDI. Pangkat dan harta dijadikan gula-gula oleh syaitan untuk membuatkan kita bersengketa dan berpecah-belah.

Dalam sistem UNDI, yang menang juga akan kekal terperangkap dengan sistam itu. Mereka bakal dicabar atau dikalahkan semula setiap 5 tahun sekali. Itu membuatkan propaganda memancing UNDI terpaksa diteruskan walaupun lepas pilihanraya. Rakyat juga semakin tersiksa. Situasi ini sama seperti nasib Nabi Yunus a.s. yang menang undi, tetapi ditelan dan terperangkap dalam PERUT IKAN BESAR. Itulah tekanan dari barat yang menaja sistem demokrasi undi ini. Perhatikan firman berikut, QS: 5. Al Maa’idah

90. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya apa saja khamar (minuman memabukkan), dan judi, dan idola, dan MENGUNDI, adalah perbuatan keji dari SYAITAN. Maka jauhilah ia agar kamu beruntung/menang (AL-FALAH = MATLAMAT SOLAT)

91. Sesungguhnya apa yang dimaksudkan syaitan hendak menimbulkan di antara kamu permusuhan dan kebencian pada/lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat /zikirkan Allah dan solat, maka apakah kamu mahu berhenti?

92. Dan kamu taatilah Allah dan kamu taatilah Rasul dan berhati-hatilah kamu. Maka jika kamu berpaling, maka ketahuilah sesungguhnya apa yang di atas Rasul Kami, penyampaian yang terang nyata.

KESIMPULAN

Sampai bilapun penyatuan tak mungkin akan berlaku selagi kita tidak sedar di mana puncanya perpecahan. SISTEM UNDI itulah puncanya, kaedah syaitan tajaan DAJJAL yang telah disogokkan dan diterima pakai oleh datuk nenek kita tanpa usul periksa. Dicanai sistem itu setelah kefahaman dan strategi pemerintahan warisan nabi SAW yang bertunjangkan ilmu alQuran berjaya disamarkan oleh jurutera perang salib di Nusantara. Jatuhnya sistem kekhalifahan oleh Kamal At-Tarturk pada 1924 itu hanya formaliti kejatuhan sahaja.

Seminggu dua lagi, kita semua akan menyaksikan fenomena kempen pilihan raya yang akan memusnahkan keharmonian dan bibit penyatuan yang kita lihat ini. Kami menyeru alim ulamak negara ini bersidang. Nasihatkan BN agar tidak masuk bertanding demi menyuburkan bibit penyatuan yang sudah mula terjalin.

TGNA tidak pernah kalah di situ dan telah terbukti rakyat selesa dengan kepimpinan berteraskan keagamaannya. Untuk memenangi pertandingan itu, BN perlu keluar banyak belanja dan memainkan banyak propaganda. Pun begitu, harapan untuk menang amat tipis sekalipun BN meletakkan calon paling hebat dari UMNO. PAS yang sedang ditimpa bencana juga terpaksa keluar belanja.

Jika terus diberi laluan kepada PAS, maka tidak akan ada pertandingan. Tiadalah banyak masa dan dana terbuang, tiada fitnah dan propaganda yang menambah kebencian dan permusuhan. Jauh lebih murni jika dana pilihanraya kecil dan modal berkempen dari kedua-dua belah pihak itu disalurkan untuk menambah dana bantuan kemanusiaan pasca banjir yang kian dilupakan. Kasihanilah marhaen yang sedang menderita.

InsyaAllah tindakan ini akan membuatkan rakyat lebih menghormati dan menerima seruan penyatuan. Jadikanlah ini sebagai hadiah kepada Allahyarham TGNA.

Mari jadikan kematian ini suatu yang menghidupkan jiwa keislaman yang memupuk persaudaraan dan penyatuan. Itulah dia seruan penyatuan Islam sebenar, yang memperkasakan umah, UMMATUN WAHIDAH.

Seruan penyatuan
WARGA PRIHATIN

 



SAINS SOLAT #10 – BACAAN SURAH PILIHAN SELEPAS FATIHAH

 

00 solat 10

SAINS SOLAT #10 – BACAAN SURAH PILIHAN SELEPAS FATIHAH

Minggu lepas kita sudah bincangkan hikmah rukun qauli iaitu penetapan bacaan surah Al-Fatihah. Ia merupakan surah pembukaan, sinopsis dan ibu kepada segala maksud dari segenap isi Al-Quran. Itulah visi dari keseluruhan alQuran yang juga dijadikan kerangka dakwah atau doa kita dalam solat.

Selepas membaca surah Al-Fatihah, dituntut pula kita membaca ayat-ayat Al-Quran yang lain.

Jika kita kaji keseluruhan ayat-ayat Al-Quran, kita dapati ada bermacam-macam tema, perintah, intonasi, konotasi dan sebagainya. Asbab atau isu yang menyebabkan ayat-ayatnya diturunkan juga berbagai-bagai. Namun harus diketahui bahawa semua ayat-ayat tersebut berlegar dalam kerangka surah Al-Fatihah, iaitu menyentuh soal RUBUBIYAH, UBUDIYAH dan MULKIYAH (RUM).

SIROT & SABIL

Surah Al-Fatihah adalah himpunan visi (SIROT) atau matlamat yang TERSIRAT dari ibadah solat kita. Ayat-ayat yang lain pula membicarakan tentang misi atau pendekatan perlaksanaan (SABIL) yang harus kita JIHAD’kan ke arah PENZAHIRAN kepada visi Fatihah itu.

Dalam konteks aktualnya, ada kepelbagaian pendekatan, langkah atau strategi yang boleh disimpulkan sebagai MISI / SABIL yang perlu kita laksanakan sebagai JIHAD. Tetapi, tujuan atau wawasan dari kesemua SABIL yang kita JIHAD’kan itu menuju kepada kerangka VISI (SIROT) yang sama. Walaupun terjemahan untuk kedua-duanya adalah sama iaitu JALAN, tetapi apabila diperhalusi, ia membawa maksud yang berlainan.

Tujuan utama atau visi solat kita ialah untuk menegakkan dien dan mencegah perbuatan keji dan mungkar dalam sesebuah jemaah atau ummah yang bergerak secara NAHNIAH sebagai KAMI. Itu yang terangkum dalam Fatihah.

Secara ringkas, Visi Fatihah bermula dari meletakkan BASMALAH yang tepat dalam apa sahaja yang kita lakukan. Kemudian kita kembalikan apa sahaja kredit yang kita dapat kepada Allah yang ‘memberikan petunjuk berupa methodologi atau aturan terbaik dalam kerjabuat kita’. Kita juga solat untuk menegakkan dien sehingga ia mampu jadi raja yang menguasai tindak tanduk kita, sehingga hanya kepada Allah kita mengabdi dan meminta pertolongan berupa petunjuk melalui solat dengan sabar dan istiqomah. Tujuan utama ialah untuk merasai nikmat beragama, tidak tersesat sehingga dimurkai Allah dan manusia.

Untuk mencapai visi Fatihah itu, kita perlukan ayat-ayat Al-Quran dari surah lain sebagai strategi dan methodologi dengan lebih spesifik. Ini boleh difahami jika setiap daripada kita MENTADARUS dan MENTAFAKUR ayat-ayat alquran itu sehingga benar-benar faham dan tahu bagaimana untuk MENTADABBUR dan MENTABAYYUN kesemuanya.

Itulah ilmu pentadbiran dan strategi kejuruteraan dalam pembangunan teologi ummah yang akan mampu mengubah situasi dan mampu ISLAH dari yang buruk kepada baik apabila ianya dilaksanakan dengan tepat dan kaffah. Itulah hakikat sebenar merujuk kepada solat yang menghasilkan amal yang SOLEH, iaitu amal yang membawa ISLAH (pembaharuan atau pembaikan).

Tidak Islam jika kita tidak ISLAH. Membazir masa jika amal kita tidak SOLEH. Tidak Islam jika hari ini tidak lebih baik dari semalam, apatahlagi jika semakin buruk. Penghayatan kepada semua seruan Allah melalui ayat-ayat alquran dalam solat itulah yang akan membantu kita mencapai matlamat amal SOLEH itu.

Itulah wasiat Rasulullah SAW. Itu juga sumpahan Allah dalam Surah 103. Al ´Ashr (1-3):

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal SOLEH, dan saling berwasiat (nasihat menasihati) dengan kebenaran dan nasihat menasihati dengan kesabaran”.

ISTIQOMAH TERHADAP TAQWIM MENUJU TAQWA

6236 Ayat-ayat alQuran menjadi perintah sokongan (RUBUBIYAH) untuk mencapai visi Fatihah melalui TAQWIM solat yang perlu kita istiqomahkan. Itulah hakikat TAQWIM yang telah Allah programkan untuk mencipta hamba (UBUDIYAH) yang BERTAQWA dan terpuji.

Setiap perintah (Rububiyah) mesti ada pelaksananya (Ubudiyyah). Itulah HAMBA yang menjalankan setiap suruhan dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan. Tidak kiralah samada ia sebagai Imam atau makmum, pemimpin atau yang dipimpin, semuanya harus memainkan peranan masing-masing (QS 4/59).

Allah amanahkan kepada Imam atau ulil amri yang berilmu agar bijaksana mengatur manusia menggunakan rububiyah Allah yang adil dan tepat, bukan mengikut akal dan nafsu sendiri. Ini akan membuatkan anak buah masing-masing mudah patuh, lalu menghasilkan satu lingkungan yang aman, damai dan sejahtera. Itulah hakikat sebuah Mulkiyah (tempat) yang indah laksana syurga; rumahku syurgaku atau Darussalam (negara yang sejahtera).

Bagi mengaitkannya dengan Fatihah, cuba kita lihat saranan Allah dalam 3 surah terakhir, Surah 112, 113, 114, (al-Ikhlas, al-Falaq dan An-Nas). Agak panjang jika ingin dirungkai semuanya. Secara ringkas dapat kita lihat di situ bahawa kerangka Fatihah ditunjukkan melalui perlaksanaan.

Surah al-Ikhlas menuntut kita menjadi MUKHLIS, iaitu berhabis (KHOLAS) melalui pengabdian dan perlaksaan kita sebagai tanda IKHLAS. Kita seharusnya merujuk dan bertawakal hanya kepada Allah satu-satunya, tidak dengan yang lain. Tidak perlu SEBUT ikhlas kerana tiada kalimah ikhlas pun dalam surah al-Ikhlas itu.

Surah al-Falaq mengajar kita agar jangan terpengaruh dengan hasutan puak-puak yang berhasad dengki dan mahu memesongkan kita.

Pasangan petunjuk yang paling tepat dengan visi Fatihah ialah dalam surah An-Nas. Di situ Allah lakarkan konsep takwuz, agar kita berlindung HANYA dengan ‘Rabb (PENGATUR) manusia’ (ROBBUL’ALAMIN) melalui rububiyah (ATURAN) agamaNya yang menjadi ‘Raja yang menguasai Manusia’ (MAALIKIYAUMIDDIN) dan ‘Sembahan Manusia’ (IYYAKANA’BUD). Itulah proses untuk menzahirkan kedaulatan RUBUBIYAH, UBUDIYAH dan MULKIYAH Allah dibumi. Itu juga Allah nyatakan dalam surah 4/59, dan 2/208.

Hari ini kita lihat bagaimana pelaksanaan bacaan di dalam solat hanya menjadi bacaan bibir semata-mata. Imam di depan membaca segala perintah Allah, malangnya berapa kerat makmum di belakang yang faham apa yang dibacakan? Begitu juga dengan khutbah jumaat. Berapa ramai Jemaah yang mengambil peluang untuk tidur semasa khatib membaca khutbah?

Ironinya, sang Khatib itu sendiri juga ada yang tidak berilmu. Mereka bukan BERKHUTBAH, tetapi MEMBACA teks khutbah. Tiada penghayatan dari penyampaian khutbah. Ramai yang hanya syok sendiri membaca khutbah sedangkan jemaah ramai yang tidur. Ada juga imam yang tidak faham ayat-ayat quran yang dibaca dan diaminkan oleh makmum. Mana mungkin akan ada roh dan penghayatan dalam solat sebegitu. Mana mungkin matlamat Fatihah boleh tercapai.

Allah larang kita berbuat dan menyampaikan sesuatu TANPA ILMU. Itu perbuatan fasik dan keji yang membuatkan kita berkata sesuatu tanpa memahaminya. Kita akan dibenci Allah kerana tidak melaksanakan apa yang kita sebut dalam solat itu. Sebenarnya inilah situasi kita sekarang. Sibuk melakukan rukun fe’li tanpa memahami untuk apa seperti bertepuk tangan sahaja. Berjela-jela membaca surah seperti siulan buruk kakak tua tanpa memahami makna dan maksudnya. Kita sebenarnya terang-terang mengingkari (kafir) perintah Allah kerana beramal tanpa ilmu. Ibadah kita hanya ikut-ikutan dan dipenuhi sangka-sangka.

QS: 17. Al Israa’ 36. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan ditanya.”

QS: 10. Yunus 36. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

QS: 61. Ash Shaff 1-3: “Telah mensucikan (diri) bagi Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Nama Allah dan Islam telah banyak tercemar oleh hambaNya yang tidak menggunapakai aturan hidup yang Allah tetapkan. Umat dan agama Islam yang seharusnya dipandang tinggi telah dihina dan dicaci oleh kelakuan kita sendiri. Kita jadi pemalas, ganas, berpecah belah, lemah dan tindas menindas. Pemimpin dan rakyat, ibubapa atau anak sama sahaja, membelakangkan Allah. Tak sama apa yang diucap dengan apa yang dibuat. Padahal bukan itu imej sebenar Islam.

DENGAN BASMALAH, demi/untuk Allah, kita wajib sucikan diri dari menggunapakai regime syaitan, atau mengikut nafsu dan akal cetek kita. Itu yang akan membersihkan NAMA ALLAH dan ISLAM yang telah dikotori oleh perbuatan sumbang hambaNya.

QS: 8. Al Anfaal 35. “Solat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.(Baitullah adalah Rumah Allah, yang aman sejahtera kerana mengamalkan RUBUBIYAH allah di ‘DALAM’nya. Tanpa rububiyah itu bermakna kita berada di LUAR Baitullah).

QS: 4. An Nisaa’ 43. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu solat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,..”

Ya, pastinya Allah merasa terhina jika hambanya ‘asyik’ membebel tanpa tahu apa yang diperkatakan padaNya macam orang mabuk. Kerana itu, harus kita takwimkan keluarga kita untuk mula istiqomah belajar memahami setiap ayat yang kita baca. Kesemua ayat al-quran harus di daulatkan sebagai perintah yang mesti difahami dan dilaksanakan. Samada kita golongan atasan (langit) atau bawahan (bumi), rakyat mahupun pemimpin, imam atau makmum, murobbi atau anak jagaan, maka tabiat buruk beramal tanpa faham itu harus disucikan. Itu kehendak Allah, AL-KHOLIQ. Mengingkarinya bermakna kita tidak BERAKHLAK

Bagi RPWP, disamping anak-anak diminta membaca alquran termasuk terjemahan ‘cover to cover’, kami juga jadikan isu harian sebagai asbab untuk menjelaskannya. Kami gunakan bahasa yang mudah untuk menyampaikan mesej Al-quran supaya ia bukan semata-mata bacaan tapi satu proses pembentukan akhlak. QS: 95. At Tiin 4. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan pada/dalam sebaik-baik taqwim”.

KESIMPULAN

Al-quran yang dibaca berulang kali dan sering dikaitkan dengan asbab kehidupan harian akan melekat dan mampu mendisiplinkan jiwa. Kita juga boleh mengunci kefahaman itu apabila sentiasa melaksana perintah Allah itu untuk memperbaiki diri (ISLAH). Hasil kerja yang menjadikan kita lebih baik (islah) itulah matlamat AMAL SOLEH kita.

Benarlah kata-kata Allah dan Rasullullah SAW. Apa guna kita solat jika kita tidak faham dengan jelas satu apa pun mesej yang Allah sampaikan. Padahal solat itu seharusnya menjadi satu ritual yang menjadikan kita seorang hamba yang berprinsip terhadap Tuhannya. Sebenarnya kita berdiri di dalam solat (QIAM) untuk menunjukkan PENDIRIAN kita sebagai seorang HAMBA yang siap siaga untuk melaksanakan setiap perintah Allah dari ayat yang kita atau imam baca.

Jika matlamat VISI dalam al-Fatihah tidak difahami dan dilaksanakan sebagai MISI menggunakan petunjuk dari ayat-ayat lain dalam alQuran, maka solat kita akan kekal sekadar bacaan yang menjadi ritual semata-mata. Sampai bila-bila pun kita akan kebingungan dan berada di takuk lama, tiada ISLAH dan AMAL tidak SOLEH.

Agak sukar juga memahami cetusan ini jika kita belum biasa mentafakur, mentadabbur dan mentabayyunkannya. Bacalah berulangkali dan carilah juga rujukan melalui hadis dan alquran. Jika masih tidak faham juga, sila abaikan sahaja perkongsian yang amat berat ini. Semuga bermanfaat.

WARGA PRIHATIN