Category: Doa – Doa Khusus

TIPS MEMBENTUK KETAKWAAN ANAK ISTERI

[fb-e url=”https://www.facebook.com/DrMasjuki/posts/1379270842177262/”]



TIPS DOA BAPA YANG BERKESAN UNTUK ANAK

[fb-e url=”https://www.facebook.com/DrMasjuki/posts/1378494862254860 /”]



LUAHAN HATI – SIAPAKAH AKU?

Subhanallah… Astaghfirullah…

Siapalah aku … muka tak tahu malu..

BACA DAN NILAIKANLAH SENDIRI …
TELITI DENGAN HATI YANG TENANG, BERSIH DAN SUCI

Dr Masjuki's photo.

LUAHAN HATI – SIAPAKAH AKU?

Terpandang tarikh hari ini 19 Syawal 1436 Hijrah membuatkan aku terfikir.

Aku lahir tahun 1382 Hijrah. Bermakna 54 kali pusingan tahun Hijrah ini berlaku bersama usiaku.. (ini kiraan yang paling tepat sebab diukur terus dari pusingan bulan).

Terdetik di hati… betapa banyak aku terhutang budi.

Udara Allah aku hirup…
Air Allah aku gunakan.
Cahaya Allah menerangi kegelapan hidup..
Rezeki Allah aku makan..

MasyaAllah…

54 tahun jantungku berdegup tanpa sesaatpun berhenti..
54 tahun paru-paru aku mengepam tanpa cuti..
54 tahun buah pinggang aku memperoses tanpa protes
54 tahun hati, pankreas dan semua organ dalaman setia berfungsi

54 tahun mata aku melihat dunia
54 tahun telinga aku mendengar suara
54 tahun hidung menghidu dan lidah merasa
54 tahun mulut ku berkata-kata
54 tahun gigi ku mengunyah entah apa-apa…

Belum dihitung lagi betapa banyaknya nikmat lain..

54 tahun otak ku berfungsi
54 tahun nikmat aman dan kasih sayang ini
54 tahun digerakkan tangan dan kaki..
54 tahun Allah bekalkan alQur’an..
54 tahun Allah izinkan Islam dan iman…

Terima kasih Allah… terima kasih..
Sesungguhnya aku merasa terlalu kerdil dan amat terhutang budi terhadap Mu…

Aku sedar wahai Allah bahawa peraturan Mu ingin menyelamatkan aku..
Aku sedar itu tanda Engkau kasih pada ku dan para hamba ciptaanMu…
Aku sedar aku tidak mampu berfikir untuk mendapatkan peraturan secantik itu…
Aku sedar aku gagal mematuhinya dengan sempurna dalam diriku..
Aku sedar aku belum mampu mempengaruhi saudara-saudara ku..

Aku redha Ya Allah dengan musibah akibat kelalaian dan dosaku …
Aku pasrah… aku kesal dan memohon keampunan dariMu..

Sesungguhnya aku juga sedar ya Allah..

Aku terlalu biadab dan hina sebagai hambaMu yang kufur nikmat..
Aku tidak mencari jalan untuk sentiasa menjadi taat..
Aku sering mencari alasan untuk tidak berbuat..
Aku sering gagal mengingkari godaan Dajjal yang amat berat.

Ya Allah…

Redhalah dengan apa yang telah dikau izinkan buat ku selama ini..
Kasihilah aku yang lemah, lalai dan sering lupa diri.
Janganlah kau humban aku ke neraka JahannamMu nanti..

Ya Allah… Terima kasih sekali lagi…

Kerana izinkan aku berkelana di dunia yang indah…
Kerana izinkan aku menikmati semua yang telah Dikau anugerah…
Kerana sudi membimbing aku untuk mengelakkan fitnah..
Kerana kurniaan akal sehingga isi hati ini mampu aku luah..

Jika ada kebaikan dari hayatku ..
Jika ada kemampuan menyuburkan ilmu dan sunnah Nabi Mu…
Jika ada ruang untuk aku menyambung amal ibu..
Jika ada ruang untuk islah terhadap amalku..
Jika ada manfaat diri ini terhadap hamba-hambamu…

Maka… dengan muka tidak tahu malu aku pohon lanjutkanlah ia wahai Allah… (baca tutup muka.. sembam di meja)

Jika hayat ini boleh menjadikan aku semakin lagho, togho dan durhaka..
Jika hayat ini hanya menambah dosa dan menganiaya manusia
Jika hayat ini sudah tidak lagi menambah amal seorang hamba..

AKU RELA DIHENTIKAN SAJA HAYAT INI YA ALLAH…
CUMA AKU POHON LAGI DENGAN MUKA TEBAL KU…

SELAMATKANLAH ANAK CUCUKU… SAUDARA SEAGAMAKU… JUGA TANAH AIR DAN DUNIA INI…

Sesungguhnya…
Aku melihat kefasikan, kemungkaran dan kejahatan yang amat dahsyat di hadapan ku…
Aku melihat peperangan yang amat dahsyat bakal berlaku…
Aku amat bimbang keselamatan anak generasiku..

Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…
Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…
Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar…

Mardhotillah…
MASJUKI – Petang 4 Ogos 2015



Perintah Allah dan Wasiat salafush shålih untuk meninggalkan debat

00 perlantikan pemimpinhttp://prihatin.net.my/web2/blog/2014/01/28/budaya-debat-menghapuskan-cara-hidup-islam/

Mutakhir ini budaya debat sudah menjadi kelaziman yang memualkan dan menyakitkan hati. Masing-masing cabar-mencabar untuk menunjukkan kepandaian dan memperlekehkan pihak lain. Padahal telah Allah jelaskan bahawa budaya debat akan melemahkan kita. Berikut adalah beberapa di antara FirmanNya,

QS: 2. Al Baqarah 139. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati“,

 

QS: 2. Al Baqarah 176. “Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”.

 

QS: 2 Al-Baqarah: 204-205 Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (darimu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan,”

 

QS: 3. Ali ‘Imran 20. “Kemudian jika mereka mendebat kamu maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.

 

QS: 4. An Nisaa’ 107. Dan janganlah kamu mendebat orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

 

QS: 4. An Nisaa’109. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka ?

 

QS: 7. Al A’raaf 71. Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu.” Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama  yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.”

 

QS: 8. Al Anfaal 46. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar“.

 

QS: 11. Huud 76. “Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak”.

 

QS: 16. An Nahl 125. “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“.

 

QS: 18. Al Kahfi 22. “… Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kamu  bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka  kepada seorangpun di antara mereka.”

 

QS: 18. Al Kahfi 54. “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”

 

QS: 19 Maryam: 97 Maka sesungguhnya, telah kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang,”

 

QS: 22. Al Hajj 8. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya”

 

QS: 29. Al ‘Ankabuut 46. Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”

 

QS: 40. Al Mu’min 4. Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.”

 

QS: 43 Az-Zukhruf : 58 Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar,”

 

Rasulullah SAW pula telah mewasiatkan larangan berdebat ini dalam banyak sekali hadis sohih dan wasiat yang sama banyak dinukilkan oleh para ulama’ muktabar sebelum ini.

1. Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam

Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar.

Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”

(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

2. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:

“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”

[Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]

3. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa

“Cukuplah engkau sebagai orang zalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain zikir kepada Allah.”

[al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]

4. Abud Darda radhiyallahu ‘anhu

“Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.”

[Darimi: 299]

5. Muslim Ibn Yasar rahimahullah

“Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]

6. Hasan Bashri rahimahullah

Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata,

“Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku bisa mendebatmu dalam agama!”

Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:

“Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]

7. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah

“Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]

8. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah

“Seorang yang wira’i tidak akan pernah mendebat sama sekali.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

(1-Wira’i artinya orang yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi diri dari yang mubah)

9. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah

“Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.”

[Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

10. Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah

“Dulu dikatakan: pertikaian dalam agama itu melebur amal.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 562]

11. al Auza’i rahimahullah

“Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”

[Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]

12. Imran al-Qashir rahimahullah

“Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan: Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]

13. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah

“Pertikaian (perdebatan) itu menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.”

[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

14. Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah

Dikatakan kepada Abdullah ibn al Hasan ibn al Husain rahimahullah,

“Apa pendapatmu tentang perdebatan (mira’)?”

Dia menjawab:

“Merusak persahabatan yang lama dan mengurai ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi sarana untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus talit silaturrahim yang paling kuat.”

[Tarikh Dimasyq: 27-380]

15. Bilal ibn Sa’d rahimahullah (kedudukannya di Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)

“Jika kamu melihat seseorang terus-terusan menentang dan mendebat maka sempurnalah kerugiannya.”

[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

16. Wahab ibnu Munabbih rahimahullah

“Tinggalkanlah jidal dari perkaramu, karena ia tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari dua orang: seseorang yang lebih alim darimu, bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang lebih alim darimu? Dan seseorang yang engkau lebih alim daripadanya, bagaimana engkau memusuhi orang yang engkau lebih alim daripadanya dan ia tidak mentaatimu? Maka tinggalkanlah itu.”

[Tahdzibul Kamal: 31/148; Siyarul A’lam: 4/549; Tarikh Dimasyq: 63/388]

17. Malik ibnu Anas rahimahullah

Ma’n rahimahullah berkata:

“Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah.”

Dia berkata:

‘Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’

Imam Malik berkata,

‘Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.’

Dia berkata,

‘Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka ucapkan.’

Imam Malik bertanya,

‘Jika engkau mengalahkan aku?’

Dia menjawab,

‘Maka ikutlah aku!’

Imam Malik bertanya lagi,

‘Kalau aku mengalahkanmu?’

Dia menjawab,

‘Aku mengikutimu?’

Imam Malik bertanya,

‘Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita dikalahkannya?’

Dia berkata,

‘Ya kita ikuti dia.’

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah”.”

Imam Malik rahimahullah berkata:

”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa pun (tidak ada nilainya sama sekali).”

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,

”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.”

(Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)

18. Muhammad ibn Idris as-Syafi’I rahimahullah

“Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”

[Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]

19. Ahmad bin Hambal rahimahullah

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang,

“Saya ada di sebuah majlis lalu disebutlah di dalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali oleh saya, apakah saya mengatakan?”

Dia menjawab:

“Beritakanlah sunnah itu, dan janganlah mendebat karenanya!”

Orang itu mengulangi pertanyaannya, maka Imam Ahmad rahimahullah berkata:

“Aku tidak melihatmu kecuali seorang yang mendebat.”

[al-Adab as-Syar’iyyah: 1/358, dalam bab menyebar sunnah dengan ucapan dan perbuatan tanpa perdebatan dan kekerasan; al-Bashirah fid-Da’wah Ilallah: 57]

20. Shafwan ibn Muhammad al-Mazini rahimahullah

Saat Shafwan rahimahullah melihat para pemuda berdebat di Masjid Jami’ maka ia mengibaskan tangannya sambil berkata:

“Kalian adalah jarab, kalian adalah jarab.”

[Ibnu Battah: 597]

(Jarab = Sejenis penyakit kulit)

Dahulu dikatakan:

“Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.”

[Al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

Sumber: alqiyamah


Wasiat asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali al-Yamani al-Wushobi al-AbdaliWahai Penuntut ilmu, jika kamu membuka pintu debat bersama temanmu maka sungguh kamu telah membuka pintu penyakit fitnah buat dirimu. Apabila seseorang penuntut ilmu tidak menjauhkan diri darinya tentu akan mendapatkan marabahaya.

Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

ما ضل قوم بعد هدى كا نوا عليه إلاأوتواالجدال : ثم قرأ : ماضربوه لك إلاجد لا بل هم قوم خصمون – رواه الترمذي عن أبي أمامة الباهلي –

 

ِArtinya : “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah berikan kepada mereka ilmu debat. Kemudian beliau membaca : mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”

(HR Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahily)

Saya masih teringat seorang teman ketika awal belajar di Madinah, mungkin kurang lebih dua puluh empat atau dua puluh lima tahun yang silam, dia terkenal banyak berdebat. Terkadang dia mulai berdebat dari setelah Isya’ sampai akhir malam. Ternyata pada akhirnya dia mendapatkan kegagalan, tidak menjaga waktu, tidak beristighfar, bertasbih, bertahlil, bangun malam, dan tidak melaksanakan bimbingan Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam.

Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bukanlah pendebat. Tatkala Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam pergi kerumah Fatimah dan Ali ketika beliau ingin membangunkan keduanya untuk sholat malam, beliau mengetuk pintu dan berkata :

”Tidaklah kalian bangun untuk melaksanakan sholat?”

‘Ali mengatakan :

”Sesungguhnya jiwa kami di Tangan Allah, Dia membangunkan sesuai kehendak-Nya.”

Lalu Baginda SAW balik sambil memukul pahanya dan berkata :

وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا

” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”

(QS Al Kahfi :54 )

Rasulullah tidak mendebat Ali dan beliau menganggap bahwa apa yang dijawab Ali termasuk dari jidal (debat) dengan berdalilkan firman Allah :

وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا

” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”

(QS Al Kahfi :54 )

Wahai penuntut ilmu jauhilah dari perdebatan, karena hal yang demikian itu menyebabkan kemurkaan dan kebencian di dalam hati. Katakan kepada temanmu apa yang kamu ketahui, kalau temanmu mengatakan tidak, kembalikanlah permasalahannya kepada Syaikhmu, dan sekali lagi menjauhlah kamu dari perdebatan, Rasulullah bersabda :

إذااختلفتم قي القران فقوموا – متفق عليه

“Apabila kalian berselisih di dalam Al Qur’an maka tinggalkan tempat tempat itu.”

(Muttafaqun Alaihi)

Apabila terjadi disuatu majlis perdebatan, satu menyatakan demikian yang lain menyatakan demikian, maka dengarkan sabda Rasulullah diatas dan janganlah kalian duduk ditempat itu dan jangan mencoba untuk membuka perdebatan. Berhati-hatilah kamu dari debat dan peliharalah waktumu, insya Allah kamu akan saling mencintai dan saling menyayangi.

[Disalin oleh Abu Aufa dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Melayu dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah“]

Maksud perkataan ‘ulama diatas

Syaikhul Islam berkata, “Jadi, yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh

– orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain)

– atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti;

– berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran,

– serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.

“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqomah. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami. Aamiin.”




SAINS SOLAT #10 – BACAAN SURAH PILIHAN SELEPAS FATIHAH

 

00 solat 10

SAINS SOLAT #10 – BACAAN SURAH PILIHAN SELEPAS FATIHAH

Minggu lepas kita sudah bincangkan hikmah rukun qauli iaitu penetapan bacaan surah Al-Fatihah. Ia merupakan surah pembukaan, sinopsis dan ibu kepada segala maksud dari segenap isi Al-Quran. Itulah visi dari keseluruhan alQuran yang juga dijadikan kerangka dakwah atau doa kita dalam solat.

Selepas membaca surah Al-Fatihah, dituntut pula kita membaca ayat-ayat Al-Quran yang lain.

Jika kita kaji keseluruhan ayat-ayat Al-Quran, kita dapati ada bermacam-macam tema, perintah, intonasi, konotasi dan sebagainya. Asbab atau isu yang menyebabkan ayat-ayatnya diturunkan juga berbagai-bagai. Namun harus diketahui bahawa semua ayat-ayat tersebut berlegar dalam kerangka surah Al-Fatihah, iaitu menyentuh soal RUBUBIYAH, UBUDIYAH dan MULKIYAH (RUM).

SIROT & SABIL

Surah Al-Fatihah adalah himpunan visi (SIROT) atau matlamat yang TERSIRAT dari ibadah solat kita. Ayat-ayat yang lain pula membicarakan tentang misi atau pendekatan perlaksanaan (SABIL) yang harus kita JIHAD’kan ke arah PENZAHIRAN kepada visi Fatihah itu.

Dalam konteks aktualnya, ada kepelbagaian pendekatan, langkah atau strategi yang boleh disimpulkan sebagai MISI / SABIL yang perlu kita laksanakan sebagai JIHAD. Tetapi, tujuan atau wawasan dari kesemua SABIL yang kita JIHAD’kan itu menuju kepada kerangka VISI (SIROT) yang sama. Walaupun terjemahan untuk kedua-duanya adalah sama iaitu JALAN, tetapi apabila diperhalusi, ia membawa maksud yang berlainan.

Tujuan utama atau visi solat kita ialah untuk menegakkan dien dan mencegah perbuatan keji dan mungkar dalam sesebuah jemaah atau ummah yang bergerak secara NAHNIAH sebagai KAMI. Itu yang terangkum dalam Fatihah.

Secara ringkas, Visi Fatihah bermula dari meletakkan BASMALAH yang tepat dalam apa sahaja yang kita lakukan. Kemudian kita kembalikan apa sahaja kredit yang kita dapat kepada Allah yang ‘memberikan petunjuk berupa methodologi atau aturan terbaik dalam kerjabuat kita’. Kita juga solat untuk menegakkan dien sehingga ia mampu jadi raja yang menguasai tindak tanduk kita, sehingga hanya kepada Allah kita mengabdi dan meminta pertolongan berupa petunjuk melalui solat dengan sabar dan istiqomah. Tujuan utama ialah untuk merasai nikmat beragama, tidak tersesat sehingga dimurkai Allah dan manusia.

Untuk mencapai visi Fatihah itu, kita perlukan ayat-ayat Al-Quran dari surah lain sebagai strategi dan methodologi dengan lebih spesifik. Ini boleh difahami jika setiap daripada kita MENTADARUS dan MENTAFAKUR ayat-ayat alquran itu sehingga benar-benar faham dan tahu bagaimana untuk MENTADABBUR dan MENTABAYYUN kesemuanya.

Itulah ilmu pentadbiran dan strategi kejuruteraan dalam pembangunan teologi ummah yang akan mampu mengubah situasi dan mampu ISLAH dari yang buruk kepada baik apabila ianya dilaksanakan dengan tepat dan kaffah. Itulah hakikat sebenar merujuk kepada solat yang menghasilkan amal yang SOLEH, iaitu amal yang membawa ISLAH (pembaharuan atau pembaikan).

Tidak Islam jika kita tidak ISLAH. Membazir masa jika amal kita tidak SOLEH. Tidak Islam jika hari ini tidak lebih baik dari semalam, apatahlagi jika semakin buruk. Penghayatan kepada semua seruan Allah melalui ayat-ayat alquran dalam solat itulah yang akan membantu kita mencapai matlamat amal SOLEH itu.

Itulah wasiat Rasulullah SAW. Itu juga sumpahan Allah dalam Surah 103. Al ´Ashr (1-3):

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal SOLEH, dan saling berwasiat (nasihat menasihati) dengan kebenaran dan nasihat menasihati dengan kesabaran”.

ISTIQOMAH TERHADAP TAQWIM MENUJU TAQWA

6236 Ayat-ayat alQuran menjadi perintah sokongan (RUBUBIYAH) untuk mencapai visi Fatihah melalui TAQWIM solat yang perlu kita istiqomahkan. Itulah hakikat TAQWIM yang telah Allah programkan untuk mencipta hamba (UBUDIYAH) yang BERTAQWA dan terpuji.

Setiap perintah (Rububiyah) mesti ada pelaksananya (Ubudiyyah). Itulah HAMBA yang menjalankan setiap suruhan dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan. Tidak kiralah samada ia sebagai Imam atau makmum, pemimpin atau yang dipimpin, semuanya harus memainkan peranan masing-masing (QS 4/59).

Allah amanahkan kepada Imam atau ulil amri yang berilmu agar bijaksana mengatur manusia menggunakan rububiyah Allah yang adil dan tepat, bukan mengikut akal dan nafsu sendiri. Ini akan membuatkan anak buah masing-masing mudah patuh, lalu menghasilkan satu lingkungan yang aman, damai dan sejahtera. Itulah hakikat sebuah Mulkiyah (tempat) yang indah laksana syurga; rumahku syurgaku atau Darussalam (negara yang sejahtera).

Bagi mengaitkannya dengan Fatihah, cuba kita lihat saranan Allah dalam 3 surah terakhir, Surah 112, 113, 114, (al-Ikhlas, al-Falaq dan An-Nas). Agak panjang jika ingin dirungkai semuanya. Secara ringkas dapat kita lihat di situ bahawa kerangka Fatihah ditunjukkan melalui perlaksanaan.

Surah al-Ikhlas menuntut kita menjadi MUKHLIS, iaitu berhabis (KHOLAS) melalui pengabdian dan perlaksaan kita sebagai tanda IKHLAS. Kita seharusnya merujuk dan bertawakal hanya kepada Allah satu-satunya, tidak dengan yang lain. Tidak perlu SEBUT ikhlas kerana tiada kalimah ikhlas pun dalam surah al-Ikhlas itu.

Surah al-Falaq mengajar kita agar jangan terpengaruh dengan hasutan puak-puak yang berhasad dengki dan mahu memesongkan kita.

Pasangan petunjuk yang paling tepat dengan visi Fatihah ialah dalam surah An-Nas. Di situ Allah lakarkan konsep takwuz, agar kita berlindung HANYA dengan ‘Rabb (PENGATUR) manusia’ (ROBBUL’ALAMIN) melalui rububiyah (ATURAN) agamaNya yang menjadi ‘Raja yang menguasai Manusia’ (MAALIKIYAUMIDDIN) dan ‘Sembahan Manusia’ (IYYAKANA’BUD). Itulah proses untuk menzahirkan kedaulatan RUBUBIYAH, UBUDIYAH dan MULKIYAH Allah dibumi. Itu juga Allah nyatakan dalam surah 4/59, dan 2/208.

Hari ini kita lihat bagaimana pelaksanaan bacaan di dalam solat hanya menjadi bacaan bibir semata-mata. Imam di depan membaca segala perintah Allah, malangnya berapa kerat makmum di belakang yang faham apa yang dibacakan? Begitu juga dengan khutbah jumaat. Berapa ramai Jemaah yang mengambil peluang untuk tidur semasa khatib membaca khutbah?

Ironinya, sang Khatib itu sendiri juga ada yang tidak berilmu. Mereka bukan BERKHUTBAH, tetapi MEMBACA teks khutbah. Tiada penghayatan dari penyampaian khutbah. Ramai yang hanya syok sendiri membaca khutbah sedangkan jemaah ramai yang tidur. Ada juga imam yang tidak faham ayat-ayat quran yang dibaca dan diaminkan oleh makmum. Mana mungkin akan ada roh dan penghayatan dalam solat sebegitu. Mana mungkin matlamat Fatihah boleh tercapai.

Allah larang kita berbuat dan menyampaikan sesuatu TANPA ILMU. Itu perbuatan fasik dan keji yang membuatkan kita berkata sesuatu tanpa memahaminya. Kita akan dibenci Allah kerana tidak melaksanakan apa yang kita sebut dalam solat itu. Sebenarnya inilah situasi kita sekarang. Sibuk melakukan rukun fe’li tanpa memahami untuk apa seperti bertepuk tangan sahaja. Berjela-jela membaca surah seperti siulan buruk kakak tua tanpa memahami makna dan maksudnya. Kita sebenarnya terang-terang mengingkari (kafir) perintah Allah kerana beramal tanpa ilmu. Ibadah kita hanya ikut-ikutan dan dipenuhi sangka-sangka.

QS: 17. Al Israa’ 36. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan ditanya.”

QS: 10. Yunus 36. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

QS: 61. Ash Shaff 1-3: “Telah mensucikan (diri) bagi Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Nama Allah dan Islam telah banyak tercemar oleh hambaNya yang tidak menggunapakai aturan hidup yang Allah tetapkan. Umat dan agama Islam yang seharusnya dipandang tinggi telah dihina dan dicaci oleh kelakuan kita sendiri. Kita jadi pemalas, ganas, berpecah belah, lemah dan tindas menindas. Pemimpin dan rakyat, ibubapa atau anak sama sahaja, membelakangkan Allah. Tak sama apa yang diucap dengan apa yang dibuat. Padahal bukan itu imej sebenar Islam.

DENGAN BASMALAH, demi/untuk Allah, kita wajib sucikan diri dari menggunapakai regime syaitan, atau mengikut nafsu dan akal cetek kita. Itu yang akan membersihkan NAMA ALLAH dan ISLAM yang telah dikotori oleh perbuatan sumbang hambaNya.

QS: 8. Al Anfaal 35. “Solat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.(Baitullah adalah Rumah Allah, yang aman sejahtera kerana mengamalkan RUBUBIYAH allah di ‘DALAM’nya. Tanpa rububiyah itu bermakna kita berada di LUAR Baitullah).

QS: 4. An Nisaa’ 43. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu solat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,..”

Ya, pastinya Allah merasa terhina jika hambanya ‘asyik’ membebel tanpa tahu apa yang diperkatakan padaNya macam orang mabuk. Kerana itu, harus kita takwimkan keluarga kita untuk mula istiqomah belajar memahami setiap ayat yang kita baca. Kesemua ayat al-quran harus di daulatkan sebagai perintah yang mesti difahami dan dilaksanakan. Samada kita golongan atasan (langit) atau bawahan (bumi), rakyat mahupun pemimpin, imam atau makmum, murobbi atau anak jagaan, maka tabiat buruk beramal tanpa faham itu harus disucikan. Itu kehendak Allah, AL-KHOLIQ. Mengingkarinya bermakna kita tidak BERAKHLAK

Bagi RPWP, disamping anak-anak diminta membaca alquran termasuk terjemahan ‘cover to cover’, kami juga jadikan isu harian sebagai asbab untuk menjelaskannya. Kami gunakan bahasa yang mudah untuk menyampaikan mesej Al-quran supaya ia bukan semata-mata bacaan tapi satu proses pembentukan akhlak. QS: 95. At Tiin 4. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan pada/dalam sebaik-baik taqwim”.

KESIMPULAN

Al-quran yang dibaca berulang kali dan sering dikaitkan dengan asbab kehidupan harian akan melekat dan mampu mendisiplinkan jiwa. Kita juga boleh mengunci kefahaman itu apabila sentiasa melaksana perintah Allah itu untuk memperbaiki diri (ISLAH). Hasil kerja yang menjadikan kita lebih baik (islah) itulah matlamat AMAL SOLEH kita.

Benarlah kata-kata Allah dan Rasullullah SAW. Apa guna kita solat jika kita tidak faham dengan jelas satu apa pun mesej yang Allah sampaikan. Padahal solat itu seharusnya menjadi satu ritual yang menjadikan kita seorang hamba yang berprinsip terhadap Tuhannya. Sebenarnya kita berdiri di dalam solat (QIAM) untuk menunjukkan PENDIRIAN kita sebagai seorang HAMBA yang siap siaga untuk melaksanakan setiap perintah Allah dari ayat yang kita atau imam baca.

Jika matlamat VISI dalam al-Fatihah tidak difahami dan dilaksanakan sebagai MISI menggunakan petunjuk dari ayat-ayat lain dalam alQuran, maka solat kita akan kekal sekadar bacaan yang menjadi ritual semata-mata. Sampai bila-bila pun kita akan kebingungan dan berada di takuk lama, tiada ISLAH dan AMAL tidak SOLEH.

Agak sukar juga memahami cetusan ini jika kita belum biasa mentafakur, mentadabbur dan mentabayyunkannya. Bacalah berulangkali dan carilah juga rujukan melalui hadis dan alquran. Jika masih tidak faham juga, sila abaikan sahaja perkongsian yang amat berat ini. Semuga bermanfaat.

WARGA PRIHATIN

 



NOTA BENCANA DARI MARHAEN KEPADA PERDANA MENTERI

//



DOA BUAT MH17, MH370, GAZA & MALAYSIA

DOA BUAT MH17, MH370, GAZA & MALAYSIA



DOA MALAM RAYA YANG AMAT MAKBUL

DOA MALAM RAYA YANG AMAT MAKBUL



GOLDEN REPUBLIC – USAHAWAN ROTI YANG PEMURAH



AJAKAN PELABURAN BUSINESS AQIDAH.