Category Archives: Parenting – Berkaitan

image_pdf

Juvenile rapist, pendedahan oleh doktor Wawa

Baru-baru ini di tengah-tengah kesibukan klinik, ada seorang budak lelaki berumur lingkungan 5 tahun berlari-lari di ruang menunggu. Bukan berlari saja-saja, tetapi berlari sambil mengejar punggung wanita dewasa untuk dicubit atau diramas.

Ibu bapa budak itu hanya tertawa memerhatikan keletah anak mereka. Memandangkan tiada sesiapa yang menghalang budak itu, saya terpaksa bertindak menegur budak itu dan ‘sound’ ibu bapanya.

“Adik, adik lelaki tau. Tak boleh pegang-pegang punggung orang perempuan macam tu,” tegas saya.

Dan panjang lebar juga saya beri parenting education kepada ibu bapa budak berkenaan.

Kenapa saya marah?

Selain kes pedophilia dan sumbang mahram, juvenile rapists adalah satu lagi bala yang wujud di Malaysia. Mudah kata, Juvenile Rapists adalah perogol yang berumur bawah 18 tahun.

Main Kahwin-Kahwin

Lebih kurang dua tahun lalu, ketika saya dimasukkan ke wad (sewaktu mengandung), saya sempat bersembang dengan seorang pesakit yang juga bekerja sebagai guru tadika.

“Doktor, kalau hantar anak pergi taska, tadika atau pengasuh, balik rumah kena periksa fizikal anak-anak. Budak-budak zaman sekarang lain sikit,” katanya membuatkan saya berdebar. Apalah yang dia mahu ceritakan ini.

Dia pun menceritakan pengalamannya menjaga budak di tadika. Ada dua beradik perempuan ini, seorang berumur 6 tahun dan adiknya berumur 4 tahun. Satu hari, cikgu tadika ternampak dua beradik bersama seorang lagi budak lelaki berumur 6 tahun bermain di bawah meja makan. Si kakak suruh budak lelaki tadi buka seluar dan duduk di atas adiknya.

“Eh? Buat apa ni?!” terkejut si cikgu melihat kejadian itu.

“Kitorang main kahwin-kahwin,” si kakak menjawab tanpa rasa takut atau bersalah.

Dengan tenang, cikgu itu duduk bersembang dan bertanyakan lebih lanjut pada si kakak.

“Kakak, hari ini teacher hantar balik ye. Nanti kakak cerita mana kakak belajar main kahwin-kahwin,” katanya.

Petang itu, si kakak bercerita yang dia seringkali diajak bermain ‘kahwin-kahwin’ dengan jiran lelaki berusia 12 tahun. Si kakak pun menunjukkan kawasan semak di tempat dia bermain. Dia juga menceritakan secara terperinci setiap ‘langkah-langkah’ yang menjengkelkan dalam permainan itu. Saya tak mahu cerita dengan lanjut.

“Selepas main, kakak selalu dapat aiskrim. Tetapi abang A tak bagi kakak beritahu mak sebab takut mak marah,” katanya.

Hal itu dimaklumkan kepada ibu dua beradik itu, malangnya tiada tindakan yang diambil.

Sudah ramai Juvenile Rapists di Malaysia terutama sekali pelajar sekolah menengah. Tak sempat untuk saya ceritakan kesemuanya.

Cuma, hal ini tidak mendapat liputan. Juvenile Rapist yang paling muda saya pernah encounter berumur 6 tahun (budak tadika). Kebanyakan yang lain pelajar sekolah menengah.

Sepanjang saya bekerja di Mesir dulu, tidak pernah saya jumpa perkara seperti ini. Mungkin sebab budak-budak di sana disibukkan dengan hafazan Al-Quran dan mereka tidak terlalu terdedah dengan gajet.

Zaman sudah berubah, anak-anak kita sedang berisiko terdedah dengan perkara-perkara ganas dan lucah di media-media. Ibu bapa perlu mengawal apa yang ditonton, dimain dan pergaulan anak-anak.

Anak perempuan perlu diajar sifat malu, manakala anak lelaki perlu diajar melindungi dan menghormati perempuan.

Jadilah teman paling rapat dengan anak-anak. Temankan mereka bermain, bercerita, bermanja. Maaf sekiranya post ini mengganggu mood hujung minggu anda. Sekian.

– Dokturah Wawa –

KISAH JUTAWAN YANG MENFAKIRKAN DIRI

JUTAWAN INI SERAHKAN SELURUH KEKAYAANNYA UNTUK BUKA RUMAH KEBAJIKAN YANG TIDAK MEMINTA DERMA. SELEPAS 11 TAHUN ANAK-ANAK YATIM JAGAANNYA MENJUMPAI KERATAN AKHBAR INI DAN….

 

ANTARA DUA DARJAT – KISAH ANAK MAKAN LAUK GARAM

Perintah Allah dan Wasiat salafush shålih untuk meninggalkan debat

00 perlantikan pemimpinhttp://prihatin.net.my/blog/2014/01/28/budaya-debat-menghapuskan-cara-hidup-islam/

Mutakhir ini budaya debat sudah menjadi kelaziman yang memualkan dan menyakitkan hati. Masing-masing cabar-mencabar untuk menunjukkan kepandaian dan memperlekehkan pihak lain. Padahal telah Allah jelaskan bahawa budaya debat akan melemahkan kita. Berikut adalah beberapa di antara FirmanNya,

QS: 2. Al Baqarah 139. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati“,

 

QS: 2. Al Baqarah 176. “Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”.

 

QS: 2 Al-Baqarah: 204-205 Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (darimu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan,”

 

QS: 3. Ali ‘Imran 20. “Kemudian jika mereka mendebat kamu maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.

 

QS: 4. An Nisaa’ 107. Dan janganlah kamu mendebat orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

 

QS: 4. An Nisaa’109. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka ?

 

QS: 7. Al A’raaf 71. Ia berkata: “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu.” Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama  yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.”

 

QS: 8. Al Anfaal 46. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar“.

 

QS: 11. Huud 76. “Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak”.

 

QS: 16. An Nahl 125. “Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“.

 

QS: 18. Al Kahfi 22. “… Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kamu  bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka  kepada seorangpun di antara mereka.”

 

QS: 18. Al Kahfi 54. “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”

 

QS: 19 Maryam: 97 Maka sesungguhnya, telah kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang,”

 

QS: 22. Al Hajj 8. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya”

 

QS: 29. Al ‘Ankabuut 46. Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”

 

QS: 40. Al Mu’min 4. Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.”

 

QS: 43 Az-Zukhruf : 58 Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar,”

 

Rasulullah SAW pula telah mewasiatkan larangan berdebat ini dalam banyak sekali hadis sohih dan wasiat yang sama banyak dinukilkan oleh para ulama’ muktabar sebelum ini.

1. Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam

Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar.

Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”

(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

2. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:

“Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”

[Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]

3. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa

“Cukuplah engkau sebagai orang zalim bila engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu berbicara dengan selain zikir kepada Allah.”

[al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]

4. Abud Darda radhiyallahu ‘anhu

“Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir tentang Allah.”

[Darimi: 299]

5. Muslim Ibn Yasar rahimahullah

“Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]

6. Hasan Bashri rahimahullah

Ada orang datang kepada Hasan Bashri rahimahullah lalu berkata,

“Wahai Abu Sa’id kemarilah, agar aku bisa mendebatmu dalam agama!”

Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:

“Adapun aku maka aku telah memahami agamaku, jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan) agamamu maka carilah.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]

7. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah

“Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]

8. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah

“Seorang yang wira’i tidak akan pernah mendebat sama sekali.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

(1-Wira’i artinya orang yang sangat menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi diri dari yang mubah)

9. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah

“Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.”

[Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

10. Mu’awwiyah ibn Qurrah rahimahullah

“Dulu dikatakan: pertikaian dalam agama itu melebur amal.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 562]

11. al Auza’i rahimahullah

“Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”

[Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]

12. Imran al-Qashir rahimahullah

“Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan: Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.”

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]

13. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah

“Pertikaian (perdebatan) itu menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.”

[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

14. Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah

Dikatakan kepada Abdullah ibn al Hasan ibn al Husain rahimahullah,

“Apa pendapatmu tentang perdebatan (mira’)?”

Dia menjawab:

“Merusak persahabatan yang lama dan mengurai ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi sarana untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus talit silaturrahim yang paling kuat.”

[Tarikh Dimasyq: 27-380]

15. Bilal ibn Sa’d rahimahullah (kedudukannya di Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)

“Jika kamu melihat seseorang terus-terusan menentang dan mendebat maka sempurnalah kerugiannya.”

[al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

16. Wahab ibnu Munabbih rahimahullah

“Tinggalkanlah jidal dari perkaramu, karena ia tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari dua orang: seseorang yang lebih alim darimu, bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang lebih alim darimu? Dan seseorang yang engkau lebih alim daripadanya, bagaimana engkau memusuhi orang yang engkau lebih alim daripadanya dan ia tidak mentaatimu? Maka tinggalkanlah itu.”

[Tahdzibul Kamal: 31/148; Siyarul A’lam: 4/549; Tarikh Dimasyq: 63/388]

17. Malik ibnu Anas rahimahullah

Ma’n rahimahullah berkata:

“Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah.”

Dia berkata:

‘Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’

Imam Malik berkata,

‘Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.’

Dia berkata,

‘Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka ucapkan.’

Imam Malik bertanya,

‘Jika engkau mengalahkan aku?’

Dia menjawab,

‘Maka ikutlah aku!’

Imam Malik bertanya lagi,

‘Kalau aku mengalahkanmu?’

Dia menjawab,

‘Aku mengikutimu?’

Imam Malik bertanya,

‘Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita dikalahkannya?’

Dia berkata,

‘Ya kita ikuti dia.’

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah”.”

Imam Malik rahimahullah berkata:

”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa pun (tidak ada nilainya sama sekali).”

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,

”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.”

(Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)

18. Muhammad ibn Idris as-Syafi’I rahimahullah

“Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”

[Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]

19. Ahmad bin Hambal rahimahullah

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang,

“Saya ada di sebuah majlis lalu disebutlah di dalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali oleh saya, apakah saya mengatakan?”

Dia menjawab:

“Beritakanlah sunnah itu, dan janganlah mendebat karenanya!”

Orang itu mengulangi pertanyaannya, maka Imam Ahmad rahimahullah berkata:

“Aku tidak melihatmu kecuali seorang yang mendebat.”

[al-Adab as-Syar’iyyah: 1/358, dalam bab menyebar sunnah dengan ucapan dan perbuatan tanpa perdebatan dan kekerasan; al-Bashirah fid-Da’wah Ilallah: 57]

20. Shafwan ibn Muhammad al-Mazini rahimahullah

Saat Shafwan rahimahullah melihat para pemuda berdebat di Masjid Jami’ maka ia mengibaskan tangannya sambil berkata:

“Kalian adalah jarab, kalian adalah jarab.”

[Ibnu Battah: 597]

(Jarab = Sejenis penyakit kulit)

Dahulu dikatakan:

“Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan orang yang bodoh; orang yang santun mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh menyakitimu.”

[Al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

Sumber: alqiyamah


Wasiat asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Ali al-Yamani al-Wushobi al-AbdaliWahai Penuntut ilmu, jika kamu membuka pintu debat bersama temanmu maka sungguh kamu telah membuka pintu penyakit fitnah buat dirimu. Apabila seseorang penuntut ilmu tidak menjauhkan diri darinya tentu akan mendapatkan marabahaya.

Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

ما ضل قوم بعد هدى كا نوا عليه إلاأوتواالجدال : ثم قرأ : ماضربوه لك إلاجد لا بل هم قوم خصمون – رواه الترمذي عن أبي أمامة الباهلي –

 

ِArtinya : “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah berikan kepada mereka ilmu debat. Kemudian beliau membaca : mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.”

(HR Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahily)

Saya masih teringat seorang teman ketika awal belajar di Madinah, mungkin kurang lebih dua puluh empat atau dua puluh lima tahun yang silam, dia terkenal banyak berdebat. Terkadang dia mulai berdebat dari setelah Isya’ sampai akhir malam. Ternyata pada akhirnya dia mendapatkan kegagalan, tidak menjaga waktu, tidak beristighfar, bertasbih, bertahlil, bangun malam, dan tidak melaksanakan bimbingan Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam.

Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bukanlah pendebat. Tatkala Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam pergi kerumah Fatimah dan Ali ketika beliau ingin membangunkan keduanya untuk sholat malam, beliau mengetuk pintu dan berkata :

”Tidaklah kalian bangun untuk melaksanakan sholat?”

‘Ali mengatakan :

”Sesungguhnya jiwa kami di Tangan Allah, Dia membangunkan sesuai kehendak-Nya.”

Lalu Baginda SAW balik sambil memukul pahanya dan berkata :

وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا

” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”

(QS Al Kahfi :54 )

Rasulullah tidak mendebat Ali dan beliau menganggap bahwa apa yang dijawab Ali termasuk dari jidal (debat) dengan berdalilkan firman Allah :

وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا

” Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah.”

(QS Al Kahfi :54 )

Wahai penuntut ilmu jauhilah dari perdebatan, karena hal yang demikian itu menyebabkan kemurkaan dan kebencian di dalam hati. Katakan kepada temanmu apa yang kamu ketahui, kalau temanmu mengatakan tidak, kembalikanlah permasalahannya kepada Syaikhmu, dan sekali lagi menjauhlah kamu dari perdebatan, Rasulullah bersabda :

إذااختلفتم قي القران فقوموا – متفق عليه

“Apabila kalian berselisih di dalam Al Qur’an maka tinggalkan tempat tempat itu.”

(Muttafaqun Alaihi)

Apabila terjadi disuatu majlis perdebatan, satu menyatakan demikian yang lain menyatakan demikian, maka dengarkan sabda Rasulullah diatas dan janganlah kalian duduk ditempat itu dan jangan mencoba untuk membuka perdebatan. Berhati-hatilah kamu dari debat dan peliharalah waktumu, insya Allah kamu akan saling mencintai dan saling menyayangi.

[Disalin oleh Abu Aufa dari buku عشرون النصيحة الطالب العلم و الد ا عي إلى الله yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Melayu dengan judul ” 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan Da’i Ilallah“]

Maksud perkataan ‘ulama diatas

Syaikhul Islam berkata, “Jadi, yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh

– orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain)

– atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti;

– berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran,

– serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.

“Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan anugerahkan pada kami istiqomah. Janganlah Engkau simpangkan hati kami setelah engkau memberi hidayah pada kami. Aamiin.”


MEMBUANG POKOK TUMBANG DENGAN SISA TENAGA DI GELAP MALAM – KEKUATAN KERJA BERJEMAAH

REMAJA KELIRU IDENTITI – MUROBBIAH & ANAK DIDIK RPWP DI TV AL-HIJRAH

Perumpamaan Lalat Dalam Pengurusan Organisasi

00 lalat
PERUMPAMAAN LALAT DALAM PENGURUSAN ORGANISASISelagi kita hidup, kita cuma ada dua pilihan. Pertama ialah hidup dengan sumber wahyu Allah yang segar lagi menyegarkan, sejahtera lagi mensejahterakan serta tenang lagi menenangkan. Pilihan kedua ialah bersumberkan regim (fahaman jahat) syaitan yang sesat lagi menyesatkan, resah lagi meresahkan dan panas lagi memanaskan. Jika anda tidak bertakwuz dari regim syaitan, maka jangan harap anda akan mendapat hidayah Allah.

QS: 16. An Nahl 98. “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan DENGAN ALLAH dari REGIM SYAITAN”.

Merujuk kepada pengalaman Pengurusan Tabiat Organisasi (Organizational Behavioral Management – OBM) suka kami kongsikan beberapa cabaran di dalamnya. Antaranya ialah bagaimana tabiat ahli sesebuah organisasi yang mampu menggugat keutuhan organisasi tersebut. Tabiat yang ingin kami kaitkan ini ada kaitan dengan perumpamaan lalat dan nyamuk yang telah Allah nukilkan dalam alquran dengan unik sekali.

Sebelum ini telah kami rencanakan tabiat hebat jemaah lebah dan tabiat buruk labah-labah (laba-laba). Kali ini ingin kami huraikan tabiat lalat pula. Jika alquran diturunkan untuk memperbaiki akhlak, tentunya segala maklumat dan petunjuk yang telah Allah nukilkan dalam quran adalah terkait dengan pedoman memperbaiki akhlak, termasuklah perumpamaan yang telah Allah berikan tentang lalat ini.

http://prihatin.net.my/2013/12/18/mengapa-kita-menganut-islam/

http://prihatin.net.my/2013/08/26/jihad-dengan-al-quran-bahagian-4-jihad-ilmu-lebih-utama-dari-bertumpah-darah/

TABIAT LALAT DAN PELAJARANNYA DALAM PENGURUSAN ORGANISASI

Lalat dikenalpasti sebagai serangga yang memudaratkan. Ia suka kepada segala benda yang busuk, hanyir dan berbau. Ia bergerak secara berjemaah dan membiak dengan cepat melalui telur dan ulat (maggot) yang turut memudaratkan atau merosak sumber yang di hurungnya.

Seperti ilustrasi gambar hiasan, anda dapat lihat jika lalat menghurung luka atau kudis, ia akan bertelur dan menjadikan kudis itu berulat (maggot wound). Jika ia hinggap pada buah, terutamanya yang berair (juicy) ia akan menyebabkan buah itu busuk. Jika ia hurung bunga sekalipun, akan menjadikan bunga yang indah itu menjadi bertompok-tompok dan huduh. Jika lalat hinggap pada makanan, ia akan jadi kotor dan berpenyakit.

Dari segi rumah, lalat hidup berkeliaran tanpa sarang atau rumah. Ia berbeza dari tabiah lebah yang membina rapi srangnya maupun labah-labah yang berumah dalam sarang perangkap mangsanya.

Sebagai manusia, perumpamaan ini terkait dengan perangai individu yang bersatu dengan tabiat lalat ini tidak bijak memilih sumber kehidupan. Jika sifat pemurahnya Allah kepada kita ialah atas dasar pemberian wahyu dan hidayah, maka sumber yang terkait dengan sifat lalat ini ialah sumber ilmu dan berita/hujjah. Kerana itu ayat ini dimusyhafkan dalam surah Haji (Hujjah).

Ringkasnya, orang yang tidak bijak akan suka menghurung berita/hujjah yang busuk dan tidak keruan. Mereka ini turut membawa mulut dan bertelur merata untuk membiakkan komuniti sepertinya. Jenis ahli seperti ini akan merosakkan organisasi.

Ada pula tabiat ahli yang suka mencetuskan sesuatu berita yang busuk dan hanyir untuk memanggil manusia lalat. Berita sebegini adalah satu kefasikan yang tidak berasas. Pencetus itu sendiri tahu pasti bahawa dia sedang melakukan kejahatan dan kedengkian. Mereka tahu yang usaha mereka tidak boleh pergi jauh dan satu hari pasti kefasikan dan kerja bodoh mereka akan diketahui umum, namun dilakukan juga demi mengikuti hawa nafsu jahat mereka.

Itulah penyakit hati yang telah menjadi darah daging seorang manusia yang malang. Tabiat perosak sesebuah organisasi ini dipanggil WASWIS (pembicaraan rahsia) mengikut bahasa alquran.

“Sesungguhnya PEMBICARAAN RAHSIA ITU ADALAH DARI SYAITAN, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal” – QS 58 Al-Mujaadilah (wanita yang menggugat): ayat10.

Bagaimana caranya Allah tidak mengizinkan tabiat WASWIS ibarat lalat dan nyamuk ini merosak orang yang beriman? Iaitu dengan memesan orang mukmin agar bertakwuz, menolak fahaman jahat dan merahmati mereka dengan rahmat hidayah yang sangat indah dan meyakinkan.

BAGAIMANA MENGELAKKAN GEJALA LALAT

Secara muhkamat, kita boleh menghalau lalat dengan cara membersihkan kawasan atau persekitaran kita dari segala bahan atau benda yang busuk dan hanyir yang dikenal pasti menarik perhatian lalat. Keduanya kita boleh bunuh terus lalat-lalat itu dengan penyembur lalat atau membuat jaringan bagi menyekat kehadiran lalat itu sendiri.

Secara mutasyabihat dalam pengurusan sesebuah organisasi, kita harus sentiasa memerhati dan mengenalpasti serta membersihkan organisasi kita dari pencetus kerosakan ini. Keduanya, kita singkirkan mereka yang tidak berprinsip dan terus terusan suka berjemaah dengan komuniti lalat ini.

Telah Allah jelaskan bahawa orang yang berakal dan bersih hatinya pasti boleh mengenal unsur fitnah yang Allah ibaratkan sebagai memakan daging saudara yang sudah busuk ini. Selaku ketua atau penanggungjawab organisasi anda harus tegas dan berani bertindak tanpa kompromi dengan kedua dua golongan ini. SAMA sahaja bahayanya bahan yang busuk yang menjadi tarikan lalat atau lalat yang menghurung itu sendiri.

Inilah nasihat yang kami berikan apabila kami dirujuk untuk menangani masalah perpecahan sesebuah organisasi yang berpunca dari tabiat gossip, fitnah dan WASWIS yang meruntuhkan ini.

Perhatikan beberapa ayat dari Surah 47 Muhammad (Golongan Terpuji) ini.

29. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ?

30. Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.

31. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan hal ihwalmu.

35. Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.

36. Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.

KESIMPULAN:

Dari sudut agama, ini hanya sedikit dari begitu banyak ayat ayat Allah yang menegaskan betapa kita harus bijak menilai ilmu/berita/maklumat dan pembawanya. Tidak susah untuk menilai kebenaran dan ketulinan ilmu/berita jika hati kita bersih dan sungguh-sungguh ingin mendekatkan diri kepada Allah. Selama ini kita tidak kenal Dajjal dan Syaitan, kerana itu kita gagal menjauhinya bahkan suka berkawan dengannya. Tidaklah Nabi katakan yang Dajjal itu boleh masuk ke rumah-rumah kita jika tidak kerana kejahilan kita mengenali tabiatnya.

Jadilah lebah yang bijak memilih sumber, tidak merosak bunga, membantu pendebungaan, bekerja dengan mematuhi aturan dan arahan ratu/ketua. Lebah cermat memainkan peranan masing-masing, bekerja untuk jemaah dan secara berjemaah, menghasilkan madu yang berhasiat, memberi tenaga dan menyembuhkan pelbagai penyakit.

Janganlah kita jadi seperti lalat yang menyukai benda busuk dan hanyir, menghurung apa sahaja sumber busuk tanpa usul periksa. Lalat bertelur merata-rata menghasilkan ulat yang merosak substance / sumber dengan liurnya.

Jangan juga jadi seperti laba-laba yang bersifat individualistik. Memerangkap mangsa dengan jaringnya, semata-mata untuk santapan peribadi dengan menyedut mangsa tanpa merubah bentuk asalnya. Licik dan rakus sungguh tabiat laba-laba.

Binalah Keutuhan Rumah tangga atau organisasi dengan pautan SATU DAHAN yang kukuh seperti lebah. BERJEMAAH dengan patuh dan teratur mengikut aturan pengatur/sang ratu dalam gerak kerja mencari sumber madu dari bunga yang indah dan murni.

Janganlah tiru struktur rumah labah-labah yang terdedah dan berserabut lemah. Rumah yang hanya berfungsi memerangkap dengan binaan jaringan yang memaut lemah apa saja dahan dan ranting di sekitarnya. Rumah laba-laba ini bersifat sementara sahaja, lepas dapat makanan ia suka-suka berpindah dan membuat perangkap baru pula.

Paling penting sekali ialah pesanan agar tidak sekali-kali mengikut perangai lalat yang sentiasa berkeliaran TANPA RUMAH. Tiada sumber ilmu dan hidayah yang bertunjangkan siyyasah.

Selamat Tahun Baru 2014 dari kami.

Perkongsian Santai OBM
WARGA PRIHATIN

RENCANA RPWP DI RANCANGAN ASIANS OF THE YEAR TV SINGAPORE